www.AlvinAdam.com


Warta 24 Nusa Tenggara Timur

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Mau Kerja? Bersainglah

Posted by On 20.03

Mau Kerja? Bersainglah

Salam

Mau Kerja? Bersainglah

PT Medco EP Malaka yang merupakan operator untuk Blok A Aceh Timur, akan mulai memproduksi gas perdana

Mau Kerja? BersainglahSERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIRJajaran direksi PT Medco EP Malaka bersilaturahmi ke Harian Serambi Indonesia, Senin (11/12/2017).

PT Medco EP Malaka yang merupakan operator untuk Blok A Aceh Timur, akan mulai memproduksi gas perdana pada Maret 2018 dengan target awal 50 juta kaki kubik gas. “Selanjutnya pada Juli-Agustus nanti akan mencapai 63 juta kaki kubik gas,” kata GM PT Medco EP Malaka, Herman Husein.

Saat ini Medco sedang merampungkan fasilitas produksi tiga sumur yang berada di Aceh Timur. Selai n itu, Medco juga sedang membangun instalasi pipa sekitar 42 km dari tiga sumur ke metering station.

Pengerjaan fasilitas produksi sudah mencapai 87 persen. Akhir Maret (2018) akan dialirkan gas pertama sebesar 50 juta kaki kubik, Herman.

Untuk mengoperasikan Blok A, Medco akan mengebor 16 sumur produksi gas dan dua sumur untuk injeksi. Selain itu, juga mengerjakan fasilitas pengolah sulfur dan kondensat di Perta Arun Gas (PAG) Lhokseumawe. Karena, ke depan Medco EP Malaka juga akan memproduksi kondensat pada Blok A.

Untuk begitu banyak pekerjaan, Medco memakai 3.738 tenaga kerja. Dari jumlah itu, sebesar 59 persen tenaga kerjanya merupakan warga Aceh, sisanya 41 persen merupakan para profesional dari luar Aceh.

Sejak setahun lalu, ada 40 putra Aceh yang sudah dilatih di Cepu, Jawa Tengah, untuk mengisi posisi sebagai operator dan teknisi. Mereka juga dipekerjakan di blok migas milik Medco di Sumatera Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi . Nanti mereka dibawa pulang untuk mengelola Blok A.

Menampung 3.000 tenaga kerja tentu harus kita syukuri di tengah sulitnya lapangan kerja. Namun, jumlah itu memang sangat kecil dibanding pencari kerja di kawasan itu yang mencapai 16.000 orang.

Dan, kita sangat paham, setiap kali akan berioperasinya perusahaan besar di daerah ini, persoalan yang selalu muncul adalah soal tenaga kerja. Masyarakat di sekeliling pabrik selalu ingin semua penganggur di daerahnya ditampung. Inilah yang sering bikin ribut. PT Arun, Mobil Oil, PT AAF, PT KKA, PT PIM, Pacific Oil, dan Medco sendiri pernah merasakan bagaimana sulitnya menyelesaikan masalah tersebut.

Oleh sebab itu, masyarakat juga perlu diberi pemahaman yang cukup tentang kebijakan perburuhan atau pekerja secara nasional dan daerah. Sudah saatnya pula dibuat batasan yang jelas tentang “putra daerah” atau “putra lokal”. Ini penting agar perusahaan yang akan beroperasi di Aceh tahu mana yang disebut putra daerah atau putra lokal. Juga perlu dibuat ketentuan, berapa persen dari kebutuhan pekerja nonskill yang wajib ditampung setiap perusahaan yang beroperasi di Aceh.

Di antara kebijakan yang bisa ditempuh adalah jika satu perusahaan membutuhkan tenaga nonskill 1.000 orang, maka 25 persen bisa diplot untuk putra lokal atau tenaga kerja di sekeliling lingkungan pabrik atau perusahaan. Dan, dalam proses seleksi mereka harus bersaing sesama tenaga lokal.

Lalu, 50 persen lagi diplot untuk putra daerah, yakni anak-anak Aceh yang ada di manapun atau kita sebut sebagai putra daerah. Dalam proses seleksi mereka juga akan bersaing sesama putra daerah. Nah, 25 persen lagi diplot untuk tenaga kerja luar Aceh dan luar negeri.

Ini hanya salah satu cara sederhana mencegah konflik masyarakat dengan perusahaan terkait penampungan pekerja. Nah?!

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Warta 24 Malaka

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »